Pangkalan Brandan, SumurPerintisBerusia122 Tahun
Kilang Pangkalan Brandan tinggal kenangan (Khairul Ikhwan-detikcom)
Medan -Lapangan minyak Pangkalan Brandan
tinggal kenangan. Setelah 122 tahun 'diperah', Pangkalan Brandan kini
tak lagi menyisakan minyak dan gas dan akan ditutup oleh Pertamina.
Inilah sekelumit kisah tentang Pangkalan Brandan.
Kisah heroik pejuang Aceh dan muhibah utusan Sriwijaya merupakan kisah
tentang awal mula diketahui adanya minyak bumi di Indonesia. Namun sumur
tidak ditemukan di Aceh, tapi justru di Sumatera Utara (Sumut),
persisnya di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat,
sekitar 110 kilometer barat laut Medan, ibukota Sumatera Utara.
Penemu sumur minyak pertama ini adalah seorang warga Belanda bernama
Aeliko Janszoon Zijlker, yang merupakan ahli perkebunan tembakau pada
Deli Tobacco Maatschappij, perusahaan perkebunan yang ada di daerah ini
pada masa itu. Penemuan itu sendiri merupakan buah perjalanan waktu dan
ketabahan yang mengagumkan. Prosesnya dimulai setelah Zijlker mengetahui
adanya kemungkinan kandungan minyak di daerah tersebut.
Ia pun menghubungi sejumlah rekannya di Belanda untuk mengumpulkan dana
guna melakukan eksplorasi minyak di Langkat. Begitu dana diperoleh,
perizinan pun diurus. Persetujuan konsesi dari Sultan Langkat masa itu,
Sultan Musa, diperoleh pada 8 Agustus 1883.
Tak membuang waktu lebih lama, eksplorasi pertama pun segera dilakukan
Zijlker. Namun bukan di tempat sumur minyak pertama itu, melainkan di
daerah yang belakangan disebut sebagai sumur Telaga Tiga. Namun minyak
mentah yang diperoleh kurang menggembirakan.
Dan pada 17 November 1884, setelah pengeboran berlangsung sekitar dua
bulan, minyak yang diperoleh hanya sekitar 200 liter. Semburan gas yang
cukup tinggi dari sumur Telaga Tiga, membuyarkan harapan untuk
mendapatkan minyak yang banyak.
Namun Zijlker dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di situ. Mereka
kemudian mengalihkan kegiatannya ke daerah konsesinya yang berada di
sebelah timur. Untungnya memang konsesi yang diberikan Sultan Musa cukup
luas, mencakup wilayah pesisir Sei Lepan, Bukit Sentang sampai ke Bukit
Tinggi, Pangkalan Brandan, sehingga bisa mencari lebih banyak titik
pengeboran.
Pilihan kedua jatuh ke Desa Telaga Said. Di lokasi kedua ini, pengeboran
mengalami sedikit kesulitan karena struktur tanah lebih keras jika
dibandingkan dengan struktur tanah di Telaga Tiga. Usaha memupus
rintangan struktur tanah yang keras itu, akhirnya membuahkan hasil. Saat
pengeboran mencapai kedalaman 22 meter, berhasil diperoleh minyak
sebanyak 1.710 liter dalam waktu 48 jam kerja.
Saat mata bor menyentuh kedalaman 31 meter, minyak yang dihasilkan sudah
mencapai 86.402 liter. Jumlah itu terus bertambah hingga pada 15 Juni
1885, ketika pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, tiba-tiba muncul
semburan kuat gas dari dalam berikut mintak mentah dan material lainnya
dari perut bumi. Sumur itu kemudian dinamakan Telaga Tunggal I.
Penemuan sumur minyak pertama di Nusantara ini berjarak sekitar 26 tahun
dari penemuan sumur minyak komersial pertama di dunia pada 27 Agustus
1859 di Titusville, negara bagian Pennsylvania, yang diprakarsai Edwin
L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.
Zijlker memang bukan orang pertama yang melakukan pengeboran minyak di
Indonesia. Bahkan pada saat yang hampir bersamaan dengan Zijlker,
seorang Belanda lainnya Kolonel Drake, juga tengah melakukan pencarian
ladang minyak di Pulau Jawa, namun Zijlker mendahuluinya.
Semburan minyak dari Sumur Telaga I jadi momentum pertama keberhasilan
penambangan minyak di Indonesia. Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun
tercatat dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia,
sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di
Indonesia yang telah berberusia 119 tahun hingga saat ini.
Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada
tahun 1934 setelah habis minyaknya disedot pemerintah Belanda yang
mengelola ladang minyak ini melalui perusahaan Bataafsche Petroleum
Matschappij (BPM).
Ketika ditinggalkan pada tahun 1934, jutaan barel minyak sudah berhasil
dikeluarkan dari bumi Langkat melalui Sumur Telaga Tunggal. Beberapa
sumur lainnya juga ditemukan di sekitar areal Telaga Tunggal I, namun
juga sudah ditinggalkan sejak lama. Setidaknya ada empat bekas sumur
minyak di sekitar itu. Lokasinya juga tidak tidak bergitu berhjauhan,
hanya dipisahkan sebuah bukit.
Tetapi setelah 119 tahun, sejak pemboran pertamanya, sumur itu ternyata
tidak benar-benar kering. Beberapa tahun belakangan, minyak menetes dari
pompa minyak yang terdapat di situ. Tetesan minyak dari sumur-sumur di
kawasan itu masih ada sampai sekarang. Sementara di beberapa sudut,
minyak juga merembes, membasahi daun-daun kering dan rumput di
sekitarnya.
Tetesan minyak ini bukannya tidak berguna. Warga sekitar yang
mengumpulkannya dalam drum, lantas dijual kepada kilang minyak Pertamina
di Pangkalan Brandan untuk diolah menjadi BBM.
Pertamina DOH NAD Area Operasi Pangkalan Brandan yang mengelola areal
sejarah ini, memang mempunyai kebijakan untuk memberdayakan masyarakat
untuk mengumpulkan sisa-sia minyak dari sumur. Selain untuk menjaga agar
tidak terjadi pencemaran, juga untuk memberdayakan ekonomi masyarakat.
Uang yang diperoleh dari penjualan minyak itu selanjutnya menjadi kas
LKMD warga.
Membicarakan Sumur Minyak Telaga I tidak bisa lepas dengan Kilang Minyak
Pangkalan Brandan. Keduanya saling berkaitan. Catatan sejarah
perjuangan bangsa juga melekat di sini.
Kilang Pangkalan Brandan yang dikelola Unit Pengolahan (UP) I Pertamina
Brandan, merupakan salah satu dari sembilan kilang minyak yang ada di
Indonesia, delapan lainnya adalah, Dumai, Sungai Pakning, Musi
(Sumatera), Balikpapan (Kalimantan), Cilacap, Balongan, Cepu (Jawa), dan
Kasim (Papua).
Ketika dibangun N.V. Koninklijke Nederlandsche Maatschappij pada tahun
1891 dan mulai berpoduksi sejak 1 Maret 1892, kondisi Kilang minyak
Pangkalan Brandan, tentu saja tidak sebesar sekarang sekarang ini. Waktu
itu peralatannya masih terbilang sederhana dan kapasitas produksi juga
masih kecil.
Bandingkan dengan kondisi sekarang, kilang yang berada di Kecamatan
Babalan Langkat saat ini berkapasitas 5.000 barel per hari, dengan hasil
produksi berupa gas elpiji sebanyak 280 ton per hari, kondensat 105 ton
per hari, dan beberapa jenis gas dan minyak.
Nilai sejarah kilang ini terangkum dalam dua aspek. Aspek pertama adalah
memberi andil bagi catatan sejarah perminyakan Indonesia, sebab minyak
pertama yang diekspor Indonesia bersumber dari kilang ini.
Momentum itu terjadi pada 10 Desember 1957, yang sekarang diperingati
sebagai hari lahir Pertamina, saat perjanjian ekspor ditandatangani oleh
Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo dengan Harold Hutton yang
bertindak atas nama perusahaannya Refining Associates of Canada
(Refican). Nilai kontraknya US$ 30.000.
Setahun setelah penandatanganan kontrak, eskpor dilakukan menuju Jepang
dengan menggunakan kapal tanki Shozui Maru. Kapal berangkat dari
Pangkalan Susu, Langkat, yang merupakan pelabuhan pengekspor minyak
tertua di Indonesia. Pelabuhan ini dibangun Belanda pada tahun 1898.
Sedangkan aspek kedua adalah nilai perjuangan yang ditorehkan putra
bangsa melalui kilang ini. Kisah heroiknya berkaitan dengan Agresi
Militer I Belanda 21 pada Juli 1947, yakni aksi bumi hangus kilang.
Aksi bumi hangus dilaksanakan sebelum Belanda tiba di Pelabuhan
Pangkalan Susu, yakni pada 13 Agustus 1947. Maksudnya, agar Belanda
tidak bisa lagi menguasai kilang minyak itu seperti dulu. Selanjutnya,
aksi bumi hangus kedua berlangsung menjelang Agresi Militer II Belanda
pada 19 Desember 1948. Tower bekas aksi bumi hangus itu masih dapat
dilihat sampai sekarang.
Nilai historis yang terkandung dalam aksi bumi hangus ini, terus
diperingati sampai sekarang. Pada 13 Agustus 2004 lalu, upacara kecil
dilaksanakan di Lapangan Petralia UP I Pertamina Brandan, yang kemudian
bersamaan dengan dekralasi pembentukan Kabupaten Teluk Aru, sebagai
pemekaran Kabupaten Langkat.